KINERJA BURUNG YANG MENGURANGI PENILAIAN DI LOMBA

Senin, 2016-02-22 19:03:17, Dibaca : 2780

KINERJA BURUNG YANG MENGURANGI PENILAIAN DI LOMBA

 

Over Aktif

Burung over aktif adalah burung yang senantiasa selalu terbang dalam sangkar, prilaku ini dapat menyebabkan burung lain akan terganggu dan si burung itu sendiri akan cepat kehilangan tenaga. Biasanya burung yang sedemikian adalah jenis burung yang masih muda, emosinya cepat naik, labil dan kurang dapat mengontrol emosinya.

 

Makan dan Minum saat Bertarung

Kebiasaan makan dan minum saat berlaga akan mengurangi penilaian lomba, karena saat burung makan dan minum maka kicauan burung akan terhenti. Kebiasaan makan dan inm bagi burung yang sedang dilomba biasanya disebabkan karena burung kecapaian dsebabkan kerja terlalu ngotot dari burung yang pada titik puncaknya. Dan atau burung telah lelah sehingga makan dan minum.

 

Burung terlalu mendongak

Khusus anis kembang atau burung lainnya, burung yang mendongak (nyeklek) memang bagus. Namun kebiasaan burung yang terlalu over mendongak akan mengakibatkan burung akan terjatuh ke belakang. Prilaku burung seperti ini dalam lomba akan mengurangi penilaian.

 

Ngejeruji

Ngejeruji adalah sikap dimana burung menempel di sangkar burung, biasanya dilakukan oleh burung jenis finch: Lover Bird, Kenari dan sebagainya. Diakibatkan oleh burung terlalu emosi atau over birahi atau karakter si burung tersebut. Kelakuan seperti ini kurang baik, karena akan mengganggu peserta kicauan lain dan suara burung yang ngejeruji akan cepat gembos karena telah menguras tenaganya untuk power suara yang dikeluarkan dan gerakan-gerakan yang menguras tenaga.

 

Salto

Salto biasanya di burung Cendet, kebiasaan salto saat lomba berlangsung dapat mengurangi penilaian, selain kurang sedap dilihat, kicauan burung juga dapat terhenti saat burung melakukan salto. Jika salto kerapkali dilakukan maka burung akan mendapat penilaian yang kurang baik. Penyebab burung salto di tenggarai adalah over birahi dan karakter burung (cendet).

 

Miyik/Buka Sayap

Sifat ini terjadi pada Cendet yang terlewat jinak/manja atau stres, burung fighter ini akan kehilangan sifat dasarnya. Burung akan berubah menjadi mengembangkan bulu-bulunya dan berbunyi bayi atau yang disebut dengan istilah miyik atau mbayi. Bila Cendet miyik atau mbayine (buka sayap), maka kinerjanya akan berkurang dan akan mengurangi nilai di lomba.

 

Burung berkicau di dasar Kandang

Burung yang berkicau di dasar sangkar dapat mengurangi penilaian. Karena juri tidak dapat menilai burung secara maksimal dan prilaku tersebut kurang indah jika dilihat. Prilaku ini dapat disebabkan karena kesalahan dalam mengasuh burung kicauan kita. Burung ini di tenggarai terlalu manja atau istilah lain adalah burung ketrekan atau mencari makanan.

 

Nguda Laut/Ngebalon

Nguda Laut atau Ngebalon biasanya berlaku untuk burung jenis kacer. Ngebalon adalah prilaku burung yang telah kalah mental (ngedrop) dan memekarkan bulu di tubuhnya. Biasanya burung yang telah ngebalon kebanyakan tidak bersuara lantang lagi.

 

Mletik

Burung mletik biasanya burung kerja bunyi, tapi tiba-tiba diem karena kaget atau mental yang jatuh karena suara lawan yang keras. Burung diem yan lama akan mengurang penilaian di lomba.

 

Angkat Kaki

Angkat kaki terutama di pleci akan mengurangi penilaian dalam suatu lomba, pleci atau burung angkat kaki kinerjanya kurang optimal.

 

Didis

Burung didis terutama pada cucak ijo dan pleci, menjadi pengurangan nilai dalam suatu lomba, burung yang banyak didis akan menurangi penilaian.

 

Suara Mati

Suara mati, atau terkadang dijuluki sebagai suara “setan”, adalah suara-suara yang menjadi momok bagi para pemilik burung berkelas (baca: burung lomba). Karena menjadi momok, tentu banyak pelomba yang menghindari suara-suara seperti itu. Tahun demi tahun berganti, tetapi fenomena suara mati tidak berubah sedikitpun, bahkan membuat kaum pelomba makin alergi jika mendengar suara burung kutilang, kedasih, suara ayam atau suara mati lainnya.

 

Suara ngeban kutilang dan kedasih inilah yang paling banyak dihindari oleh sebagian besar kicau mania pada burung kicauannya

 

Kutilang (kiri) dan kedasih.

Selain kutilang, kedasih, dan ayam, suara apa lagi sih yang dianggap sebagai suara mati dan dihindari sejumlah pemilik burung kicauan? Banyak sekali ragamnya, termasuk suara kucing, suara perkutut, dan sebagainya.

 

Patut digarisbawahi di sini, suara cerecetan kutilang tidak termasuk suara mati. Komponen suara mati pada kutilang adalah “tilung… tilung…” yang bisa mengurangi poin bagi burung saat berlomba.

 

Entah sejak kapan fenomena ini muncul. Yang pasti, pantangan ini sudah berjalan cukup lama, menyemburat dari mulut ke mulut, dan sebenarnya belum diketahui secara jelas alasan yang mendasar. Ada yang mengatakan, ini sudah menjadi konsensus juri-juri di masa lalu, dan sebagian masih diamini juri-juri masa kini.

Komentar